Spesies Baru, Udang Tahan Panas

Thursday, January 12, 2012 | 11 comments


Jauh di bawah laut Karabia yang sangat terkenal dengan dunia laut Vulkaniknya terdapat spesies udang baru yang sangat unik. Udang ini memiliki ketahanan terhadap panas yang ada disekitarnya.

Berada didekat kepulauan Cayman, terletak pada kedalaman hampir 3,1 mil (5 Kilometer), kendaraan robot telah berhasil menemukan udang-udang yang memiliki gaya superman visi panas ini.

Udang-udang tersebut menempel pada bidang ventilasi yang mengeluarkan udara panas sekitar 752 derajat Fahrenheit (400 derajat celcius). Bidang ventilasi kaya akan mineral yang berada di dasar laut di mana lempeng tektonik memisahkan, disinilah spesies baru udang tersebut berkumpul.

Udang tahan panas ini memiliki panjang rata-rata 2,5 sentimeter untuk dewasanya. Bagian atas berwarna ungu dengan corak keabu-abuan dan mengeluarkan cahaya inframerah dari rongga-ronggo cangkangnya.

Selain itu, disekitar bidang ventilasi terdalam dari kedua celah lempengan juga dihuni oleh gerombolan spesies baru lainnya, termasuk anemon laut, ikan dan spesies-spesies lain dengan ukuran rata-rata 2,5 sentimeter.

Doug Connelly yang merupakan salah satu dari anggota ekspedisi asal Inggris mengatakan bahwa, mereka sangat senang akan penemuan tersebut dan ini merupakan hal terbaru dalam dunia kelautan.

Pada ekspedisi lainnya juga, telah ditemukan sebuah benteng di laut dalam sebelah utara Antartika. Investigasi ini menemukan benteng hangat yang dihuni oleh kepiting spesies baru, gurita dasar laut yang sangat tahan terhadap beku.



Sumber: nationalgeographic.com
Sumber gambar: courtesy University of Southampton/NOC

Ditemukan Spesies Baru Hiu Gergaji

Monday, January 2, 2012 | 2 comments


Para pemburu hiu dari Afrika tak sengaja menangkap hiu gergaji cambuk. Hiu ini dinyatakan sebagai spesies baru dari hiu gergaji yang ditangkap pada kedalamanan 1.600 kaki dalam pukat dari Mozambik.

Pemangsa ini memiliki gigi bertabur disepanjang moncong yang membuktikan hiu ini menggunakan seperti pedang, mencambuk bahkan memotong ikan dan kemudian memakan korban.

Penemuan adalah bagian dari penemuan selama dekade terakhir. Sekitar 200 spesies baru telah ditemukan pada dekade ini, dibandingkan dari penemuan tiga dekade sebelumnya yang kurang dari 200 spesies, kata Ebert.

Meskipun kemajuan dalam menggambarkan hiu baru, para ilmuwan hanya mengetahui sedikit tentang perilaku predator air ini'atau populasi mereka', Ebert menambahkan.

Penelitian pada hiu sangat dibatasi oleh ruang yang sempit dan habitat yang terbatas, dan juga karena dana untuk melaksanakan survei ini sangat terbatas, kata Ebert.

Banyak ilmuwan dan peneliti cenderung mengabaikan spesies hiu tertentu dalam penelitian mereka, ia menambahkan.

"Banyak hiu dari spesies bawah laut yang belum terdeteksi, katakanlah seperti hiu putih besar, Ada banyak di luar sana di laut besar kita tidak tahu apa-apa tentang", katanya.

Bersama dengan hiu gergaji cambuk ini, spesies baru ikan hiu malaikat, Squatina caillieti, juga ditemukan pada kedalaman 370-meter di Pulau Luzon Filipina, kata Ebert.

Hiu malaikat yang tinggal pada kedalam hampir 1.200 kaki ini memiliki sirip dada mirip sayap yang besar berguna untuk kelincahan dalam menyergap mangsanya.



Sumber: news.nationalgeographic.com
Photo: courtesy D. A. Ebert and G.M. Cailliet, California Academy of Sciences

Ditemukan Katak Terkecil di Dunia

Friday, December 16, 2011 | 16 comments


Katak terkecil telah ditemukan di Papua Nuguni. Fred Kraus dan rekan-rekan timnya telah menemukan dua spesies baru selama ekspedisi 2011 ke pegunungan terpencil di tenggara Papua Nugini.

Katak penemuan ini diberi nama Paedophryne dekot yang artinya "sangat kecil". Katak ini memiliki panjang 8,5 - 9 milimeter. Katak terkecil sebelumnya yang ditemukan memiliki panjang sekitar 10 milimeter.

"Saya selalu kagum dengan ukuran katak kecil ini, penemukan katak tersebut benar-benar mendorong batas dari apa yang mungkin," kata Robin Moore, seorang ahli amfibi kepada Conservation International (CI).

Katak Paedophryne dekot merupakan speseis katak baru dan terkecil di dunia, atau vertebrata dengan empat kaki terkecil sesudah ikan Paedocypris progenetica Tenggara. Vertebrata terkecil di dunia adalah Asia spesies ikan Paedocypris progenetica Tenggara, dengan betina dewasa berukuran hanya 7,9 milimeter.

Kraus, dari Hawaii Bishop Museum, sebelumnya mengidentifikasi Katak Paedophryne dekot sebagai genus Paedophyrne katak baru, yang hidup di tengah dan celah dedaunan di atas tanah hutan hujan.

Kraus dan tim asisten lokal sangat sulit menangkap katak tersebut untuk diteliti. Mereka harus menempelkan wajah mereka ke tanah untuk melihat dan kemudian mencoba menangkap amfibi dengan tangan kosong, ini bukanlah tugas yang mudah.

Krus berpendapat bahwa katak ini mungkin berevolusi atas ukuran kecil mereka untuk mengisi peran dalam lingkungan yang tidak dieksploitasi oleh makhluk lain.

Secara umum penemuan ini menunjukkan bahwa, mungkin masih banyak katak kecil yang belum diketahui melompat-lompat dibilah-bilah daun di dunia.




Sumber: nationalgeographic.com
Foto: courtesy Fred Kraus

Kodok Pelangi Borneo 87 Tahun Menghilang

Monday, December 12, 2011 | 15 comments


Kodok pelangi Borneo yang tidak pernah dijumpai lagi sejak 87 tahun yang lalu, kini menampakkan dirinya kembali. Penemuan ini di ungkapkan oleh para ilmuan yang menyisir pegunungan Bornoe dan berhasil mengambil gambar dari kodok pelangi tersebut.

Kodok pelangi borneo (Ansonia latidisca) terakhir kali terlihat oleh para penjelajah pada tahun 1924. Kodok tersebut sempat dianggap sudah punah karena sangat lama hilang dan tidak pernah dijumpai lagi.

Profesor Indraneil Das, asal Sarawak Malaysia University yang memimpin ekspedisi telah melakukan pencarian sejak bulan Agustus lalu namun tidak berhasil menemukan kodok tersebut. Akhirnya penjelajahan difokuskan ke kawasan pengunungan Penrissen yang sangat jarang dieksporasi selama seabad terakhir oleh para penjelajah. Sangat tidak disangka bahwa mereka menemukan tiga ekor kodok pelangi Borneo. Kodok-kodok tersebut terdiri dari kodok jantan, betina, dan seekor anak kodok yang hidup di tiga pohon berbeda.

"Sangat menyenangkan mengetahui bahwa alam bisa memberikan kejutan ketika kita sudah hampir menyerah, apalagi di saat krisis kepunahan terus meluas di planet kita," kata Robon Moore, peneliti spesialis amfibi dari Conservation International saat mengumumkan temuan tersebut.

Das dan timnya menolak mengungkapkan letak posisi persis tempat ditemukan kodok tersebut. Hal ini dilakukannya untuk melindungi kodok tersebut dari penangkapan liar karena tingginya permintaan pasar atas kodok pelangi ini. Walaupun demikian para peneliti akan terus mencari tahu seputar populasi kodok tersebut guna memperhitungkan seberapa besar kodok pelangi Borneo yang masih bertahan.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Ulat Bulu

Saturday, December 10, 2011 | 11 comments


Ulat bulu merupakan hewan yang sebagian besarnya mengkonsumsi tumbuhan (herbivora). Binatang herbivora ini termasuk hewan yang sangat rakus dan sangat merugikan manusia. Dalam pertanian, hewan ini dianggap sebagai hama karena sangat merugikan petani.

Asal-usul etimologi ulat bulu berasal dari awal abad 16. Nama ulat bulu atau caterpillars berasal dari bahasa Prancis lama yaitu catepelose yang berarti kucing (cattus: bahasa Latin) dan pelose yang artinya bulu. Ulat bulu memiliki tubuh lunak yang bisa menumbuhkan bulu dengan cepat. Ulat bulu juga memiliki nama sebutan yaitu geometrids atau inchworms karena cara hewan ini bergerak seolah mengukur bumi.

Dapat diketahui antara beberapa larva dari ordo Hymenoptera yaitu semut, lebah dan tawon, memang seringkali keliatan seperti ulat bulu dari ordo Lepidoptera. Kedua hal tersebut berbeda hanya di bagian perut. Selain itu, ulat Lepidoptera (ulat bulu) memiliki jahitan berbentuk Y di bagian depan kepala.

Pada ulat bulu, hanya bagian kepala yang keras. Ulat bulu memiliki rahang kuat dan tajam untuk mengunyah daun dan memotong dahan. Namun, bagi ulat bulu dewasa, rahang mereka cenderung lebih lunak dan lembut. Di balik rahangnya yang tajam, ulat bulu memiliki fitur pemintal yang bisa memproduksi sutra.

Ulat bulu sangat berbahaya karena bulunya yang berbentuk duri sangat beracun, Duri ini digunakan untuk perlindungan diri dari pemangsa lain. Namun pada tahap metamerfosis, ulat bulu akan berubah menjadi kepompong dan berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik tergantung dari makanan yang dikonsumsinya, bahkan bisa menjadi spesies kupu-kupu baru.




Uakaris si Muka Merah

Saturday, November 26, 2011 | 5 comments


Kepala botak dengan wajah merah merupakan ciri khas dari primata ini. Uakaris adalah primata kecil yang berasal dari Selatan Amerika. Bulunya panjang lebat dan memiliki warna bervariasi dari coklat sampai jingga. Monyet ini hidup di lembah sungai Amazon yang mempunyai sumber air atau disekitar sungai kecil dan danau, terkadang mereka menetap secara permanen ditempat tersebut bila tidak merasa terancam dari pemangsa.

Monyet ini terkenal rasa sosialnya antar sesama dan suka berkumpul dalam kelompok besar, tetapi pada saat siang hari mereka berpisah dari kelompok besar untuk mencari makan dengan membentuk kelompok kecil. Pada malam hari primata ini tidur ditempat yang tinggi di dalam hutan tropis.

Tidak seperti kebanyakan monyet memiliki ekor panjang untuk menjaga keseimbangan, Uakaris memiliki ekor yang sangat pendek, tapi bergerak gesit antara pohon ke pohon dengan lengan dan kakinya.

Uakaris mengkonsumsi buah-buahan sebagai makanannya, tetapi terkadang mereka juga mengkonsumsi dedaunan dan juga beberapa serangga. Rahang yang kuat Uakaris dapat membuka kacang Brazil yang sangat keras. Kebiasaan dari Uakaris adalah suka mengumpulkan makanan di atas pohon, bila periode kering dan makanan sangat langka, primata ini singgah ke tanah untuk mencari biji-bijian yang jatuh atau akat-akar pohon.

Uakaris betina melahirkan bayi tunggal pada setiap tahun. Usia reproduksi pada betina Uakaris adalah tiga tahun dan jantan 6 tahun, oleh karena itu Uakaris tidak mengalami pertumbuhan yang cepat pada habitatnya.

Primata cerdas ini berada diambang kepunahan, mereka diburu untuk dijual dan untuk dimakan. Perusakan lingkungan primata juga semakin meningkat, sehingga lingkungan tempat Uakaris semakin sempit bahkan akan hilang.



Sumber: nationalgeographic.com
Photograph by Mattias Klum
 
© Design modified 2010-2011 putroe intan | Powered by Blogger.com.