Ditemukan Katak Terkecil di Dunia

Friday, December 16, 2011 | 16 comments


Katak terkecil telah ditemukan di Papua Nuguni. Fred Kraus dan rekan-rekan timnya telah menemukan dua spesies baru selama ekspedisi 2011 ke pegunungan terpencil di tenggara Papua Nugini.

Katak penemuan ini diberi nama Paedophryne dekot yang artinya "sangat kecil". Katak ini memiliki panjang 8,5 - 9 milimeter. Katak terkecil sebelumnya yang ditemukan memiliki panjang sekitar 10 milimeter.

"Saya selalu kagum dengan ukuran katak kecil ini, penemukan katak tersebut benar-benar mendorong batas dari apa yang mungkin," kata Robin Moore, seorang ahli amfibi kepada Conservation International (CI).

Katak Paedophryne dekot merupakan speseis katak baru dan terkecil di dunia, atau vertebrata dengan empat kaki terkecil sesudah ikan Paedocypris progenetica Tenggara. Vertebrata terkecil di dunia adalah Asia spesies ikan Paedocypris progenetica Tenggara, dengan betina dewasa berukuran hanya 7,9 milimeter.

Kraus, dari Hawaii Bishop Museum, sebelumnya mengidentifikasi Katak Paedophryne dekot sebagai genus Paedophyrne katak baru, yang hidup di tengah dan celah dedaunan di atas tanah hutan hujan.

Kraus dan tim asisten lokal sangat sulit menangkap katak tersebut untuk diteliti. Mereka harus menempelkan wajah mereka ke tanah untuk melihat dan kemudian mencoba menangkap amfibi dengan tangan kosong, ini bukanlah tugas yang mudah.

Krus berpendapat bahwa katak ini mungkin berevolusi atas ukuran kecil mereka untuk mengisi peran dalam lingkungan yang tidak dieksploitasi oleh makhluk lain.

Secara umum penemuan ini menunjukkan bahwa, mungkin masih banyak katak kecil yang belum diketahui melompat-lompat dibilah-bilah daun di dunia.




Sumber: nationalgeographic.com
Foto: courtesy Fred Kraus

Katak Bertaring

Friday, August 19, 2011 | 1 comments


Ben Evans, pakar hewan dari McMaster University di Hamilton dan ilmuwan Indonesia menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Sembilan katak di antaranya belum pernah ditemukan sebelumnya.

Untuk menemukan katak ini, Evans dan timnya harus melakukan ekspedisi di sepanjang sungai dan hutan dengan resiko gigitan ular berbisa. Hasilnya, ada 683 ekor katak yang berhasil ditangkap. Peta distribusi katak lalu dibuat, sekaligus perbandingan ciri katak dengan lingkungan tempatnya.

Katak bertaring termasuk dalam genus Limnocetes, disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah. Taring yang dimaksud bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, karena tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.

Dalam catatannya, Evans menulis, seluruh spesies katak bertaring yang ditemukan memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing, mulai dari yang terbasah hingga terkering dan dengan beragam vegetasi yang ada.

Beberapa spesies katak mempunyai kaki berselaput tebal berguna untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik pada penemuannya adalah, ada katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.

Evans mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, tak ada genus katak lain di Sulawesi yang bisa berkompetisi dengan genus katak bertaring. Ini menjadi bukti bahwa katak bertaring berevolusi untuk mengisi kekosongan relung kehidupan yang ada di Sulawesi.

Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Namun diyakini adalah sebagai senjata melawan pejantan lain guna mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.

Saat ekspedisi, Evans berusaha menangkap katak di hutan yang belum tersentuh penebangan liar. Namun, Evans mengatakan, banyak hutan tempat ia mengambil sampel telah hilang dan rusak ketika ia mengunjunginya beberapa tahun kemudian."

Sejauh ini belum ada dari spesies yang ditemukan punah. Tapi distribusi katak-katak tersebut telah berkurang. Perlu usaha pelestarian lingkungan untuk menjaga katak-katak unik agar tetap eksis.




Katak Bertanduk Amazon

Saturday, August 13, 2011 | 2 comments


Katak bertanduk amazon berbeda dari katak yang lain selain mempunyai tanduk diatas kepalanya juga memiliki ukuran lebih besar dari ukuran katak pada umumnya. Ukurun katak ini bisa mencapai 20 cm. Mereka biasa ditemukan di rawa-rawa air tawar dan kolam di seluruh Amazon Basin, dari Kolombia ke Brasil.

Amfibi ini terkenal sangat rakus dan sangat agresif terhadap makanan buruan. Katak bertanduk amazon memilik serangan bagaikan seekor predator. Mereka menyembunyikan tubuhnya diantara semak-semak daun dalam lumpur hutan dan hanya kepala saja yang kelihatan untuk mengawasi mangsa. Ketika mangsanya mendekat, katak ini langsung menerkam dan menelan seluruh tubuh korban dan menguncinya dengan raham serta giginya yang tajam.

Katak bertanduk amazon sangat sering melakukan kesalahan terhadap mangsa, dimana mangsa tersebut terkadang lebih besar dari pada tubuhnya sendiri. Sering katak ini mati karena tidak sanggup untuk menelan makanannya. Karena dikenal katak yang sangat rakus dan bermulut besar, katak ini mendapat julukan sebagai "Pac Man frogs".

Katak bertanduk amazon  betina lebih besar dari pada katak bertanduk jantan. Hiasan warna katak jantan lebih banyak dari pada katak betina. Katak betina hanya memiliki warna coklat saja.

Tanduk diatas kepala katak ini berfungsi sebagai kamuflase yang menyerupai batang daun alam liar yang berguna pada saat melakukan penyergapan.




Foto by George Grall
 
© Design modified 2010-2011 putroe intan | Powered by Blogger.com.