Spesies Baru, Udang Tahan Panas

Thursday, January 12, 2012 | 14 comments


Jauh di bawah laut Karabia yang sangat terkenal dengan dunia laut Vulkaniknya terdapat spesies udang baru yang sangat unik. Udang ini memiliki ketahanan terhadap panas yang ada disekitarnya.

Berada didekat kepulauan Cayman, terletak pada kedalaman hampir 3,1 mil (5 Kilometer), kendaraan robot telah berhasil menemukan udang-udang yang memiliki gaya superman visi panas ini.

Udang-udang tersebut menempel pada bidang ventilasi yang mengeluarkan udara panas sekitar 752 derajat Fahrenheit (400 derajat celcius). Bidang ventilasi kaya akan mineral yang berada di dasar laut di mana lempeng tektonik memisahkan, disinilah spesies baru udang tersebut berkumpul.

Udang tahan panas ini memiliki panjang rata-rata 2,5 sentimeter untuk dewasanya. Bagian atas berwarna ungu dengan corak keabu-abuan dan mengeluarkan cahaya inframerah dari rongga-ronggo cangkangnya.

Selain itu, disekitar bidang ventilasi terdalam dari kedua celah lempengan juga dihuni oleh gerombolan spesies baru lainnya, termasuk anemon laut, ikan dan spesies-spesies lain dengan ukuran rata-rata 2,5 sentimeter.

Doug Connelly yang merupakan salah satu dari anggota ekspedisi asal Inggris mengatakan bahwa, mereka sangat senang akan penemuan tersebut dan ini merupakan hal terbaru dalam dunia kelautan.

Pada ekspedisi lainnya juga, telah ditemukan sebuah benteng di laut dalam sebelah utara Antartika. Investigasi ini menemukan benteng hangat yang dihuni oleh kepiting spesies baru, gurita dasar laut yang sangat tahan terhadap beku.



Sumber: nationalgeographic.com
Sumber gambar: courtesy University of Southampton/NOC

Hujan Meteor Pembuka Tahun 2012

Tuesday, January 3, 2012 | 8 comments


Di bulan pembuka 2012 bumi mendapatkan hadiah fenomena alam yakni hujan meteor Quads. Hal ini terjadi sejak mulai tanggal 1-5 Januari 2012 dan diprediksi mencapai puncaknya pada hari Rabu (4/1/12) pukul 01.00-05.00 dini hari WIB.

Fenomena alam ini dapat disaksikan oleh seluruh wilayah indonesia dengan mengamati arah timur hingga timur laut. peneliti utama Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Jamaludin, pada National Geographic, menyebutkan "Ini merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi karena debu komet. Namun, belum diketahui secara spesifik komet apa yang menyebabkannya".

"Ini termasuk hujan meteor yang kuat dengan satu hingga dua meteor per menitnya", tambah Thomas.

Menurut meteorologist Weather Channel, Mark Ressle, hujan meteor Quads hanya akan sulit terllihat di wilayah barat laut dan pasifik. Sedangkan menurut Bill Cooke sebagai Direktur NASA Meteoroid Environment Office, hujan meteor Quads merupakan fenomena alam yang berumur pendek.

"Mereka merupakan salah satu hujan meteor teraktif tiap tahunnya, tapi tidak bisa dilihat oleh banyak orang karena muncul di dini hari saat musim dingin, Cuaca akan sangat dingin di pagi seperti itu, jadi orang enggan keluar dari dalam rumahnya." ungkap Cooke dalam USA Today.

Thomas menegaskan bahwa ada tiga syarat yang harus diperhatikan jika ingin melakukan pengamatan. Pertama, cuaca harus cerah. Kedua, pengamatan harus jauh dari wilayah yang jauh dari polusi cahaya. Dan ketiga, medan pandang tidak terhalang. Pengamatan seperti di musim hujan seperti ini masih mungkin, jika ada celah pada awan

Selain bisa diamati di belahan bumi bagian timur, hujan meteor Quads juga bisa dilihat di belahan bumi bagian barat. Masyarakat yang berada di wilayah Amerika Utara bisa melihat hujan meteor ini yang diperkirakan mencapai 100 meteor per menitnya.




Sumber: nationalgeographic.co.id

Ditemukan Spesies Baru Hiu Gergaji

Monday, January 2, 2012 | 3 comments


Para pemburu hiu dari Afrika tak sengaja menangkap hiu gergaji cambuk. Hiu ini dinyatakan sebagai spesies baru dari hiu gergaji yang ditangkap pada kedalamanan 1.600 kaki dalam pukat dari Mozambik.

Pemangsa ini memiliki gigi bertabur disepanjang moncong yang membuktikan hiu ini menggunakan seperti pedang, mencambuk bahkan memotong ikan dan kemudian memakan korban.

Penemuan adalah bagian dari penemuan selama dekade terakhir. Sekitar 200 spesies baru telah ditemukan pada dekade ini, dibandingkan dari penemuan tiga dekade sebelumnya yang kurang dari 200 spesies, kata Ebert.

Meskipun kemajuan dalam menggambarkan hiu baru, para ilmuwan hanya mengetahui sedikit tentang perilaku predator air ini'atau populasi mereka', Ebert menambahkan.

Penelitian pada hiu sangat dibatasi oleh ruang yang sempit dan habitat yang terbatas, dan juga karena dana untuk melaksanakan survei ini sangat terbatas, kata Ebert.

Banyak ilmuwan dan peneliti cenderung mengabaikan spesies hiu tertentu dalam penelitian mereka, ia menambahkan.

"Banyak hiu dari spesies bawah laut yang belum terdeteksi, katakanlah seperti hiu putih besar, Ada banyak di luar sana di laut besar kita tidak tahu apa-apa tentang", katanya.

Bersama dengan hiu gergaji cambuk ini, spesies baru ikan hiu malaikat, Squatina caillieti, juga ditemukan pada kedalaman 370-meter di Pulau Luzon Filipina, kata Ebert.

Hiu malaikat yang tinggal pada kedalam hampir 1.200 kaki ini memiliki sirip dada mirip sayap yang besar berguna untuk kelincahan dalam menyergap mangsanya.



Sumber: news.nationalgeographic.com
Photo: courtesy D. A. Ebert and G.M. Cailliet, California Academy of Sciences

Lonceng Cakra Donya

Saturday, December 31, 2011 | 6 comments


Lonceng Cakra Donya merupakan salah satu lonceng yang sangat terkenal di dunia dan memiliki nilai sejarah tinggi. Lonceng Cakra Donya sangat terkenal di Aceh dan sampai sekarang menjadi simbol atau icon Aceh.

Menurut catatan sejarah, lonceng cakra donya merupakan pemberian dari Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.

Lonceng Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina pada tahun 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Pada bagian luar lonceng Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara China dan Arab. Aksara China bertuliskan "Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo" (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi karena sudah terhapus akibat dimakan usia.

Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Pada abad ke 15, armada Cheng Ho mampir dalam pelayarannya ke Pasai dan memberikan Lonceng besar yang tertanggal 1409 (Cakra Donya) kepada raja Pasai pada waktu itu. Di kota Samudra Pasai ini banyak tinggal komunitas Tionghoa, seperti adanya "kampung Cina", seperti ditulis dalam Hikayat Raja-raja Pasai.

Ketika Pasai ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal Sultan Iskandar Muda yang bernama "Cakra Donya"

Cakra mempunyai arti: poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari, kabar. Sedangkan Donya berarti dunia. Secara harafiah dapat diartikan pembawa kabar dunia. Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka.

Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis menamakannya "Espanto del Mundo" (Teror Dunia). Kemudian Lonceng yang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab dinamakan lonceng Cakra Donya.

Lonceng raksasa yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang bermutu tinggi ini diletakkan di dekat Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di kompleks Istana Sultan. Namun kini Lonceng Cakradonya telah dipindahkan ke Museum Aceh.

Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.



Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lonceng, http://acehpedia.org/Lonceng_Cakra_Donya

Mengenang Aceh 7 Tahun Silam

Monday, December 26, 2011 | 6 comments


Hari ini tepat 26 Desember 2011 merupakan tanggal dan bulan yang sangat terpenting dalam benak bangsa Aceh. Pada masa 7 Tahun silam, bangsa Aceh menangis dan menjerit meminta tolong mohon ampun pada yang Maha Kuasa.

Orang tua kehilangan anak-anaknya, sang anak mencari-cari ayah dan ibunya, suami mencari istri, istri bertanya-tanya kabar berita suami, kakak mencari adik, si adik linglung melihat sekelilingnya nafsi-nafsi.

Mayat-mayat berserakan seperti daun-daun gugur berhamburan di tanah. Rintihan-rintihan sakit meminta "tolong" sudah tidak tergubris karena pikiran terfokus mencari keluarga dan sanak famili. Sungguh pada hari itu semua dan nafsi-nafsi.

Pada hari minggu, 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat yang menyebabkan tsunami di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Pada pukul 7:58:53 WIB, Gempa bumi dengan berkekuatan 9,3 mengguncang Aceh. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E, Koordinat: 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalam 10 kilometer.

TIdak lama setelah gempa berhenti, tiba-tiba air laut surut jauh dari pesisir pantai. Karena pada saat itu bertepatan dengan hari libur, tempat-tempat wisata pantai sangat ramai pengunjungnya. Para pengunjung dan masyarakat setempat turun menuju pantai untuk memungut bunga-bunga karang dan ikan-ikan yang tidak ikut terseret arus.

Tiba-tiba terdengar ledakan dasyat dan dalam sekejab gelombang besar menghantam apa saja yang ada didepannya. Air laut bercampur lumpur hitam pekat menjadi satu menerjang dan meluluh lantakkan bangunan rumah, industri rumah tangga, toko, kios, bahkan tempat-tempat ibadah.

Air bah (tsunami) itu tidak memandang bulu untuk menelan korbannya. Kayu, batu, seng, besi, dan juga manusia terlumat menjadi tidak berbentuk. Sungguh mesin penghancur yang sangat luar biasa.

Setelah air pun surut dan kembali normal, barulah terlihat jelas kondisi jiwa-jiwa yang tidak tertolong. Sungguh tragis dan mengenaskan kondisi para jenazah-jenazah tersebut. Ada yang sudah tidak bisa dikenali lagi, kelihangan salah satu anggota tubuh bahkan seluruhnya, ada juga yang masih bernyawa dengan kondisi tinggal berpulang kepada-Nya.

Saatnya itu hanya air mata darah yang bisa keluar menangisi kehilangan keluarga tercinta. Padahal semalamnya masih tertawa bercanda bersama, tapi ketika pagi datang semua hilang tanpa rasa maaf tersampaikan.

Semua yang terjadi di Aceh merupakan kehendak dari-Nya. Tidak ada yang bisa kita manusia lakukan kecuali hanyalah berdo'a dan meminta pengambunan. Dibalik semua cobaan pasti ada hikmah yang didapat. Aceh menjadi aman, tidak ada lagi kontak senjata dan penculikan di malam hari dengan kondisi tewas tertembak dan bekas penuh siksa di pagi hari.

Semoga Acehku tetap aman. Bangkitlah Aceh lebih besar dari sebelumnya.

Ceritakan lah pada anak-anak cucu Aceh bahwa tanggal 26 Desember 2004 adalah hari dimana Air Laut (tsunami) meluluh lantakkan Kota dan Desa.

Peringatkan dan kecamkan anak-anak cucu Aceh untuk selalu waspada bila terjadi gempa dengan kekuatan besar untuk lari dan mencari tempat yang lebih tinggi.

Semoga kita semua dilindungi oleh ALLAH SWT.


Gambar kilas balik tsunami































by: putroe intan

Ditemukan Katak Terkecil di Dunia

Friday, December 16, 2011 | 17 comments


Katak terkecil telah ditemukan di Papua Nuguni. Fred Kraus dan rekan-rekan timnya telah menemukan dua spesies baru selama ekspedisi 2011 ke pegunungan terpencil di tenggara Papua Nugini.

Katak penemuan ini diberi nama Paedophryne dekot yang artinya "sangat kecil". Katak ini memiliki panjang 8,5 - 9 milimeter. Katak terkecil sebelumnya yang ditemukan memiliki panjang sekitar 10 milimeter.

"Saya selalu kagum dengan ukuran katak kecil ini, penemukan katak tersebut benar-benar mendorong batas dari apa yang mungkin," kata Robin Moore, seorang ahli amfibi kepada Conservation International (CI).

Katak Paedophryne dekot merupakan speseis katak baru dan terkecil di dunia, atau vertebrata dengan empat kaki terkecil sesudah ikan Paedocypris progenetica Tenggara. Vertebrata terkecil di dunia adalah Asia spesies ikan Paedocypris progenetica Tenggara, dengan betina dewasa berukuran hanya 7,9 milimeter.

Kraus, dari Hawaii Bishop Museum, sebelumnya mengidentifikasi Katak Paedophryne dekot sebagai genus Paedophyrne katak baru, yang hidup di tengah dan celah dedaunan di atas tanah hutan hujan.

Kraus dan tim asisten lokal sangat sulit menangkap katak tersebut untuk diteliti. Mereka harus menempelkan wajah mereka ke tanah untuk melihat dan kemudian mencoba menangkap amfibi dengan tangan kosong, ini bukanlah tugas yang mudah.

Krus berpendapat bahwa katak ini mungkin berevolusi atas ukuran kecil mereka untuk mengisi peran dalam lingkungan yang tidak dieksploitasi oleh makhluk lain.

Secara umum penemuan ini menunjukkan bahwa, mungkin masih banyak katak kecil yang belum diketahui melompat-lompat dibilah-bilah daun di dunia.




Sumber: nationalgeographic.com
Foto: courtesy Fred Kraus
 
© Design modified 2010-2011 putroe intan | Powered by Blogger.com.