Hujan Meteor Pembuka Tahun 2012

Tuesday, January 3, 2012 | 7 comments


Di bulan pembuka 2012 bumi mendapatkan hadiah fenomena alam yakni hujan meteor Quads. Hal ini terjadi sejak mulai tanggal 1-5 Januari 2012 dan diprediksi mencapai puncaknya pada hari Rabu (4/1/12) pukul 01.00-05.00 dini hari WIB.

Fenomena alam ini dapat disaksikan oleh seluruh wilayah indonesia dengan mengamati arah timur hingga timur laut. peneliti utama Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Jamaludin, pada National Geographic, menyebutkan "Ini merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi karena debu komet. Namun, belum diketahui secara spesifik komet apa yang menyebabkannya".

"Ini termasuk hujan meteor yang kuat dengan satu hingga dua meteor per menitnya", tambah Thomas.

Menurut meteorologist Weather Channel, Mark Ressle, hujan meteor Quads hanya akan sulit terllihat di wilayah barat laut dan pasifik. Sedangkan menurut Bill Cooke sebagai Direktur NASA Meteoroid Environment Office, hujan meteor Quads merupakan fenomena alam yang berumur pendek.

"Mereka merupakan salah satu hujan meteor teraktif tiap tahunnya, tapi tidak bisa dilihat oleh banyak orang karena muncul di dini hari saat musim dingin, Cuaca akan sangat dingin di pagi seperti itu, jadi orang enggan keluar dari dalam rumahnya." ungkap Cooke dalam USA Today.

Thomas menegaskan bahwa ada tiga syarat yang harus diperhatikan jika ingin melakukan pengamatan. Pertama, cuaca harus cerah. Kedua, pengamatan harus jauh dari wilayah yang jauh dari polusi cahaya. Dan ketiga, medan pandang tidak terhalang. Pengamatan seperti di musim hujan seperti ini masih mungkin, jika ada celah pada awan

Selain bisa diamati di belahan bumi bagian timur, hujan meteor Quads juga bisa dilihat di belahan bumi bagian barat. Masyarakat yang berada di wilayah Amerika Utara bisa melihat hujan meteor ini yang diperkirakan mencapai 100 meteor per menitnya.




Sumber: nationalgeographic.co.id

Qatar, Menekan Angka Kematian Jalan Raya

Thursday, December 8, 2011 | 7 comments


Qatar telah berhasil menekan angka kematian akibat dari kecelakaan jalan raya. Itu semua berkat kecanggihan teknologi kamera pengukur kecepatan kendaraan yang melintas dijalan raya. Seperti yang dilaporkan oleh Weill Cornell Medical Collage (WMCM), bahwa kecelakaan jalan raya berkurang cukup drastis semenjak pemasangan pada tahun 2007 lalu.

Data ini diambil oleh para peneliti dengan cara membagi dua periode penelitian, yaitu periode sebelum dan sesudah pemasangan kamera dengan jeda waktu sepuluh tahun. Terbukti bahwa dari hasi penelitian, kecelakaan jalan raya menurun drastis hingga 15 persen.

Saat ini, kamera yang sudah terpasang mencapai 84 buah dan akan terus ditambah pada titik-titik jalan raya. Pemasangan kamera ini sangat efektif guna mengontrol para pemakai jalan dalam menggunakan kecepatannya dan ada petugas yang mengawasi kecepatan kendaraan yang melintas.

Di Indonesia, kamera pengukur kecepatan kendaraan seperti ini belum digunakan. Kecelakaan jalan di Indonesia termasuk sangat besar dan dengan adanya teknologi canggih ini, bisa menekan angka kematian akibat kecelakaan jalan. Semoga pemerintah indonesia segera sadar dan belajar dari negara-negara maju agar tidak selalu berkembang dalam penggunaan teknologi canggih.

Semoga.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Gerhana Bulan Total Dipenghujung 2011

Tuesday, December 6, 2011 | 8 comments


Di penghujung tahun 2011, masyarakat Indonesia berkesempatan untuk menikmati gerhana Bulan. Gerhana Bulan Total (GBT) di akhir tahun 2011 yang juga merupakan peristiwa GBT kedua di tahun 2011 akan berlangsung dari sore hari setelah Matahari terbenam sampai jelang tengah malam. Gerhana terakhir di tahun 2011 ini akan terjadi ketika Bulan sedang berada pada titik turun di timur Rasi Taurus. Saat gerhana, Bulan baru saja melintasi titik terjauhnya dari Bumi yang terjadi tanggal 6 desember 2011 ketika Bulan berada pada jarak 405400 km.

Pada GBT 10 Desember 2011, Bulan akan melintasi area tengah bagian selatan bayangan Bumi. Kali ini Bulan tidak akan melintas tepat di tengah bayangan Bumi seperti halnya GBT 16 Juni 2011. Tapi meskipun demikian fase gerhana total akan berlangsung selama 51 menit.

Gerhana Bulan Seri Saros 135
Gerhana Bulan Total 11 Desember 2011 merupakan bagian dari keluarga gerhana dengan siklus Saros 135, yang memiliki 71 seri gerhana yakni 31 gerhana penumbral, 17 gerhana sebagian, dan 23 gerhana total. Susunan gerhana dalam seri saros 135 adalah sebagai berikut :

9 Gerhana Penumbra
10 Gerhana Sebagian
23 Gerhana Total
7 Gerhana Sebagian
22 Gerhana Penumbra

Gerhana berikut yang berasal dari siklus Saros yang sama akan terjadi 18 tahun 11 hari 8 jam lagi. Maknanya adalah, kedua gerhana yang terpisah selama 1 periode saros (18 tahun 11 hari 8 jam) akan memiliki geometri gerhana yang sama. Atau dengan gerhana bulan seri saros 135 berikutnya yang akan terjadi 18 tahun 11 hari dan 8 jam lagi akan terjadi saat Bulan berada pada jarak yang hampir sama dari Bumi pada waktu yang sama di tahun saat terjadi gerhana seri saros sebelumnya.

Satu seri Saros memiliki 70 atau lebih gerhana Bulan dan akan berlangsung selama 12-15 abad. Gerhana Bulan dalam seri Saros 135 semuanya terjadi saat Bulan berada pada titik turun dan Bulan bergerak ke arah utara dalam setiap Gerhana.

Seri 135 ini dimulai dengan Gerhana Bulan Penumbral di tepi selatan penumbra tanggal 13 April 1615 dan baru akan berakhir pada tanggal 18 Mei 2877 dengan Gerhana Penumbra di area tepi utara penumbra. Durasi total seri Saros 135 ini berlangsung selama 1262.11 tahun.


Tahapan Gerhana
Secara keseluruhan, fasa gerhana total dari GBT tanggal 10 Desember 2011 akan berlangsung selama 51 menit. Waktu kontak antara Bulan dengan Bumi akan dimulai dengan Bulan memasuki bayangan Bumi dengan tahapan waktu :

Prediksi Waktu Indonesia bagian Barat?
Gerhana Penumbral dimulai : 18:33:32 wib
Gerhana Sebagian dimulai : 19:45:42 wib
Gerhana Total dimulai : 21:06:16 wib
Puncak Gerhana : 21:31:49 wib
Gerhana Total berakhir : 21:57:24 wib
Gerhana Sebagian berakhir : 23:17:58 wib
Gerhana Penumbral berakhir: 00:30:00 wib

Prediksi Waktu Indonesia bagian tengah?
Gerhana Penumbral dimulai : 19:33:32 wita
Gerhana Sebagian dimulai : 20:45:42 wita
Gerhana Total dimulai : 22:06:16 wita
Puncak Gerhana : 22:31:49 wita
Gerhana Total berakhir : 22:57:24 wita
Gerhana Sebagian berakhir : 00:17:58 wita
Gerhana Penumbral berakhir: 01:30:00 wita

Prediksi Waktu Indonesia bagian timur?
Gerhana Penumbral dimulai : 20:33:32 wit
Gerhana Sebagian dimulai : 21:45:42 wit
Gerhana Total dimulai : 23:06:16 wit
Puncak Gerhana : 23:31:49 wit
Gerhana Total berakhir : 23:57:24 wit
Gerhana Sebagian berakhir : 00:17:58 wit
Gerhana Penumbral berakhir: 01:30:00 wit

Pada saat puncak gerhana, magnitudnya mencapai 1,1061 dan gerhana total akan berlangsung selama 51 menit. Saat gerhana total terjadi, Bulan tidak akan menghilang melainkan tampak berwarna merah.


Keseluruhan gerhana dapat dilihat oleh pengamat di Asia dan Australia. Untuk masyarakat Amerika Utara, gerhana sedang dalam proses ketika Bulan terbenam. Bagi pengamat di Eropa dan Afrika, mereka akan kehilangan fasa awal gerhana karena gerhana sudah dimulai sebelum Bulan terbit. Dan untuk pengamat di Amerika Selatan dan Antartika, Gerhana terakhir di tahun 2011 ini tidaka an tampak.

Bagi pengamat di Indonesia, seluruh daerah di Indonesia akan dapat menikmati Gerhana Bulan Total 10 Desember 2011. Bagi pengamat di Indonesia bagian barat, GBT akan terjadi tak lama setelah matahari terbenam. Sedangkan di timur Indonesia, Gerhana baru akan dimulai jam 8 malam dan berakhir lewat tengah malam.



Sumber: langit selatan

Renungan Untuk Alam Kita

Monday, December 5, 2011 | 5 comments


Percaya atau tidak, potensi kenaikan panas global akan terus meningkat, baik itu dari polusi gas industri, emisi kendaraaan, bahkan dari rumah kaca sendiri.

Semakin banyak rumah dan gedung-gedung tinggi yang menggunakan dinding dari kaca, baik itu itu setengah bahkan penuh pada bangunan tersebut. Selain harga yang lebih murah dan bangunan terlihat lebih indah, rumah kaca merupaka solusi yang baik untuk digunakan. Akan tetapi jika ditinjau dari efek buruknya pada lingkungan, dengan adanya kaca-kaca pada setiap bangunan, akan menyebabkan sinar matahari memantulkan sinarnya kembali ke ozon dan berakibatkan bumi menjadi lebih panas.

Bisa kita bayangkan jika bumi sudah terlalu panas. Tumbuhan menjadi kering dan layu, tanah menjadi sangat tidak baik untuk pertanian, dan penyakit-penyakit baru akan muncul. Efeknya tidak kita rasakan sekarang, namun anak cucu kitalah yang merasakannya 100 tahun kedepan.

Pemerintah disetiap negara sudah menjalankan program penghijaun kembali hutan-hutan yang telah dipakai untuk kebutuhan penduduknya. Namun program tersebut tidak akan berjalan jika penduduk negara tersebut tidak menjalankan dengan benar dan mengabaikan program tersebut.

Penebangan liar masih terus berlanjut dengan alasan untuk kebutuhan ekonomi, tapi tidak salahnya setelah menebang menanam sebatang bibit baru untuk tumbuh dan menghijau. Jika terjadi banyak kejadian bancana alam seperti tanah longsor dan gempa bumi, itu bukanlah alam yang kejam, tetapi manusialah yang menginginkannya. Akibat pengrusakan dari 10 manusia, menewaskan 1 juta manusia lainnya.



putroeintan.blogspot.com

Pengenalan Definisi Musim

Saturday, December 3, 2011 | 13 comments


Musim adalah periode tahun yang dibedakan oleh suatu kondisi iklim khusus. Empat musim yaitu musim semi, panas, gugur, dan musim dingin mengikuti satu sama lain secara teratur. Masing-masing memiliki siklus cahaya sendiri, suhu, dan pola cuaca yang berulang-ulang secara tahunan.

Di belahan bumi utara sendiri, musim dingin umumnya dimulai pada tanggal 21 atau 22. Ini adalah titik balik matahari musim dingin, hari tahun dengan periode terpendek siang hari. Musim panas dimulai pada tanggal 20 Juni atau 21 (summer solstice), yang memiliki sebagian besar siang hari setiap hari dalam setahun. Semi dan musim gugur, atau musim gugur, dimulai pada ekuinoks, hari-hari yang memiliki jumlah yang sama siang dan kegelapan. Para vernal, atau musim semi, ekuinoks jatuh pada tanggal 20 atau 21, dan musim gugur ekuinoks adalah pada tanggal 22 atau 23.

Musim di belahan bumi utara adalah kebalikan dari belahan bumi selatan. Ini berarti bahwa di Argentina dan Australia, musim dingin dimulai pada bulan Juni. Titik balik matahari musim dingin di belahan bumi selatan adalah bulan Juni 20 atau 21, sedangkan summer solstice, hari terpanjang tahun, adalah tanggal 21 atau 22.

Peristiwa ini terjadi karena bumi terletak miring pada porosnya seperti lingkaran matahari. Sumbu bumi tidak dapat dilihat secara mata telanjang, namun sumbu ini berjalan melalui pusat dari kutup utara.

Pada bulan Juni, ketika belahan bumi utara dimiringkan ke arah matahari, sinar matahari memukul itu untuk sebagian besar hari daripada di musim dingin. Ini berarti mendapatkan lebih jam siang hari. Ketika belahan bumi utara dimiringkan ke arah matahari, sinar matahari juga memukulnya cukup secara langsung, membuat mereka kuat dan pemanasan. Pada bulan Desember, ketika belahan bumi utara adalah dimiringkan jauh dari matahari, sinar matahari datang pada sudut, membuat mereka lemah dan kurang dari pemanasan di musim panas.

Musim dingin biasanya memiliki cuaca dingin, siang sedikit, dan pertumbuhan tanaman terbatas. Pada musim semi, tanaman tumbuh, pohon daun membentangkan, dan mekar bunga. Musim panas adalah waktu terpanas tahun dan memiliki siang hari yang paling, sehingga tanaman tumbuh dengan cepat. Pada musim gugur, suhu drop, dan banyak pohon kehilangan daun mereka.

Tahun empat musim yang khas hanya terjadi pada pertengahan garis lintang. Pertengahan garis lintang adalah tempat yang tidak dekat kutub atau dekat khatulistiwa. Semakin jauh kita pergi ke utara, semakin besar perbedaan musim. Helsinki, Finlandia, melihat 18,5 jam siang hari di pertengahan Juni. Pada pertengahan Desember misalnya, cahaya matahari yang diterima kurang dari 6 jam. Athena, Yunani, di selatan Eropa, memiliki variasi yang lebih kecil. Ini memiliki 14,5 jam siang hari pada bulan Juni dan 9,5 jam pada bulan Desember.

Wilayah yang dekat dengan khatulistiwa terjadi sedikit variasi musiman. Pada wilayah ini umlah yang sama siang dan kegelapan sepanjang tahun. Sudut sinar matahari juga tidak banyak berubah, sehingga tempat ini tetap hangat sepanjang tahun. Dekat khatulistiwa, daerah biasanya memiliki musim hujan dan kering.

Di daerah kutub, sudut sinar matahari miring sepanjang tahun. Daerah ini umumnya lebih dingin dari pada tempat lain di Bumi. Dekat kutub, jumlah siang hari perubahan dramatis antara musim panas dan musim dingin. Di Barrow, Alaska, kota paling utara di Amerika Serikat, itu tetap cahaya sepanjang hari antara pertengahan Mei dan awal Agustus. Kota ini dalam kegelapan total antara pertengahan November dan Januari.




Sember: Putroeintan.blogspot.com

Mempertahankan Bumi Dari Pemanasan Global

Wednesday, November 30, 2011 | 6 comments


Kantor cuaca PBB mengatakan, suhu dunia terus meningkat, dan menuju ambang yang dapat menyebabkan perubahan ireversibel Bumi. Dalam penilaian tahunan dari suhu rata-rata global, tahun 2011 merupakan tahun terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1850. Es laut Kutub Utara menyusut sangat cepat dan berada pada kondisi volume rendah tahun ini.

Laporan awal IMO, berdasarkan 10 bulan pertama tahun ini yang dibicarakan di Jenewa, iklim di Afrika Selatan sangatlah kelam dan mencari cara untuk menekan polusi yang menyebabkan efek pemanasan global paling parah di Negara tersebut.

2011 telah menjadi tahun cuaca ekstrim yang menyebabkan kekeringan di Afrika Timur, banjir yang mematikan di Asia, dan 14 bencana cuaca yang terpisah di Amerika Serikat dengan kerusakan terparah.

Laporan IMO mengatakan, saat suhu permukaan rendah di Samudra Pasifik khatulistiwa memiliki efek pendinginan pada seluruh dunia. Sejauh ini es laut Kutub Utara pada tahun 2011 adalah yang terendah kedua pada catatan, dan volumenya adalah yang terendah. Para ilmuwan melihat Arktik sebagai wilayah paling sensitif dan sebuah barometer masa depan.

Arktik Rusia dan sebagian besar Siberia menyimpan sejumlah besar metana terkunci di dalam lapisan es, yang kaya karbon tanah yang tidak pernah mencair. Suhu musim panas hangat berarti pencairan lapisan es yang lebih dalam dan pelepasan lebih besar dari metana, gas dengan potensi pemanasan global 23 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Laporan ini datang pada hari kedua konferensi yang dilaksanakan dua minggu di kota pesisir Afrika Selatan dan dihadiri oleh 192 pihak untuk mencari kesepakatan tentang tindakan di masa depan guna menekan kerusakan akibat perubahan iklim.

Pembicaraan akan menentukan apakah negara-negara industri akan mengindahkan dan memperluas komitmen mereka di bawah Protokol Kyoto 1997 untuk mengurangi emisi rumah kaca mereka dan apakah negara-negara berkembang akan menerima batas mengikat emisi mereka di masa depan.



Sumber: msnbc.msn.com

Indonesia Dalam Daftar Pengelolaan Hutan Terburuk

Tuesday, November 29, 2011 | 11 comments


Sungguh mengejutkan dan prihatin atas laporan yang dinyatakan oleh Maplecroft yaitu sebuah lembaga analisis resiko dan pemetaan. Maplecroft mengumpulkan data dari 180 negara di dunia, dan menyebutkan Nigeria, Indonesia, dan Korea Utara merupakan tiga negara dengan tingkat deforestasi paling cepat di dunia.

Dari hasil analisis Maplecroft menyayangkan bahwa negara-negara tersebut sangat berisiko kehilangan spesies tanaman dan hewan yang mampu menyediakan keuntungan seperti udara bersih dari hutan, sumber air untuk sungai-sungai dan mangrove yang melindungi pesisir pantai. Padahal, semua bisa membantu mendukung ekonomi negara tersebut.

Arianna Granziera dari badan analis Maplecroft, menyebutkan "Deforestasi juga bisa merusak upaya sebuah negara dalam mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) mereka karena hutan memegang peranan penting dalam meredam perubahan iklim global lewat penyerapan karbon".

Indonesia sendiri kehilangan sekitar 1 juta hektar hutan per tahun. Jika dibandingkan, ukuran itu kurang lebih sama dengan 13 kali ukuran luas Singapura. Penyebab utama dari deforestasi (penebangan liar ) adalah perluasan perkebunan kelapa sawit. Angkanya mencapai 16% dari total penyebab deforestasi.

Nigeria, merupakan negara yang berada di posisi puncak dalam catatan sebagai negara yang paling rajin memusnahkan kawasan hutannya. Negara ini kehilangan sekitar 2 juta hektar hutan per tahun dalam kurun waktu 2005 sampai 2010 lalu. Penyebabnya adalah perluasan lahan pertanian, logging, dan perkembangan infrastruktur.

Jika dibandingkan dengan dua negara diatas, China merupakan negara terbaik yang mampu menekan kehilangan lahan hutan mereka karena adanya undang-undang perlindungan yang agresif dan program penanaman kembali hutan-hutan. Tetapi sangat ironis bahwa, langkah yang diambil negeri tersebut memicu illegal logging di negara lain, yang disebabkan oleh kebutuhan pasar China yang sangat tinggi atas kayu membuat impor kayu mereka meningkat. Sebagian besar kayu dibeli China berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Namun banyak pula impor ilegal dari Brazil, Kamboja, dan negara-negara berkembang lain di sekelilingnya.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Penemuan "titik beku" Air Sebenarnya

Sunday, November 27, 2011 | 10 comments


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Valeria Molinero dari University of Utah dan dipublikasikan di jurnal Nature, menyatakan bahwa belum tentu wujud air akan membeku pada "nol derajat Celcius". Air bisa tetap berbentuk cair meski suhunya jauh berada di bawah ‘titik beku’ itu. Kondisi air yang tetap cair dalam kondisi temperatur di bawah 0 derajat Celsius itu sendiri disebut juga dengan ‘supercooled’ water. Adapun peneliti menemukan bahwa supercooled air cair tersebut bisa tetap cair sampai suhunya berada di -48 derajat Celsius.

Dari penelitian yang dilakukan terungkap bahwa, jika ingin membuat es dari air cair, kita perlu memiliki "bibit" es di dalam cairan tersebut, yakni berupa kristal yang menjadi "inti" di mana kristal lain terbentuk.

Namun dalam air murni, yang tidak memiliki kandungan atau partikel lain di dalamnya, dimana inti atau nukleus penting bisa terbentuk, titik beku jadi lebih sulit dicapai karena sifat thermodynamics yang tidak lazim yang dimiliki H20.

Air sangatlah unik karena memiliki perilaku yang berbeda dengan cairan lain. Sebagai contoh, es air mengambang di atas air. Padahal, umumnya benda padat tenggelam jika ditempatkan di benda cair. Begitu juga besi padat tenggelam saat dicelupkan di wadah yang berisi besi cair.

Kepadatan air juga berubah bersamaan dengan perubahan temperatur dan kondisi terpadat adalah saat berada di suhu 3,8 derajat Celsius. Ini menjelaskan mengapa ikan bisa bertahan hidup di bawah es karena berenang di air yang lebih hangat dan lebih padat di bagian bawah danau.

Dengan menggunakan model komputer, Molinero dan rekan-rekannya timnya kemudian melakukan simulasi terhadap perilaku "supercooled water" dalam level mikroskopik. Mereka menguji coba apa yang akan terjadi terhadap 32.768 molekul air jika didinginkan, menghitung kapasitas panas dari air, tingkat kepadatan dan tekanannya. 1.000 jam kemudian, hasilnya terungkap. Batas temperatur di mana air dipastikan akan membeku adalah di -48 derajat Celsius.

“Air yang mendingin hingga -40 derajat Celsius bisa ditemukan di awan,” kata Molinero. “Anda perlu hasil temuan ini untuk memprediksi berapa banyak air yang ada di atmosfir dalam bentuk cair atau kristal. Ini penting untuk melakukan prediksi terhadap perubahan iklim global,” ucapnya.

Molinero menyebutkan, penelitian ini lebih dari sekadar memecahkan rasa kepenasaran secara ilmiah. Ilmuwan yang berkutat di masalah pemanasan global juga perlu mengetahui berapa temperatur dan tingkat kecepatan di mana air membeku dan mengkristal menjadi es.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Badai di belahan Utara Saturnus

Thursday, November 24, 2011 | 2 comments


Jika kita masih mengingat kabar yang diberitakan pada pertengahan September 2004, sebuah pesawat luar angkasa NASA yang diberi nama Casini, telah mencatat badai yang berada di daerah belahan bumi utara ketika mengorbit Planet Saturnus. Badai itu tak terlalu besar, dan disebut "Dragon Storm".

Tepat pada bulan Desember 2010 hingga Juni 2011, Cassini kembali merekam penampakan badai serupa di Saturnus, tapi dalam skala sangat besar dibandingkan badai sebelumnya.

Pada Dua belas gambar yang terekam menunjukkan pada atmosfer Saturnus serta cincinnya diselimuti mozaik warna-warna indah dan menakjubkan. Warna merah dan jingga nampak, mengindikasikan awan yang berada di kedalaman atmosfer. Kemudian warna hijau dan kuning yang paling terlihat di bagian atas, mengindikasikan awan yang berada di antara atau awan tengah dan beberapa warna biru dan putih, mengindikasikan awan tinggi serta kabut.

Dari catatan NASA, badai yang terjadi tersebut merupakan badai dengan waktu terlama dalam dua dekade dan mengalahkan badai di tahun 1903 yang betahan selama 5 bulan. Pada saat itu, cakupan wilayah badai mencapai 5 miliar kilometer persegi atau 10 kali lipat luas permukaan Bumi.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Virus Menyerang Ikan Salmon

Tuesday, November 8, 2011 | 2 comments


Populasi ikan salmon yang kembali mencari makan ke hilir sungai mengalami penurunan drastis, khususnya di sungai Fraster, Kanada. Setelah diteliti penyebabnya adalah ikan salmon tersebut terkena virus yang disebut sebagai Infection Salmon Anemia. Sebelumnya virus ini juga ditemukan di peternakan ikan di kawasan timur Kanada, Norwegia, dan Chili.

Biolog Alexandra Morton, yang mengirimkan sampel ikan salmon coho dan sockeye untuk diteliti menyalahkan pertanian salmon di perairan terbuka sebagai penyebab peredaran virus tersebut. Adapun virus itu kemungkinan tiba di kawasan British Columbia, Kanada, bersama dengan telur ikan salmon impor. “Ini sangat tidak terduga. Kami tidak mengetahui penyebabnya dan itu yang membuat banyak orang khawatir,” ucap Morton.

Dari pemantauan, jumlah ikan salmon yang kembali ke hulu sungai Fraser untuk bertelur sempat turun hingga 1 juta ekor pada tahun 2009 lalu saat peneliti memprediksi bahwa akan ada 10 juta ekor ikan yang kembali untuk bertelur. Meski begitu, angka ini sempat pulih pada tahun 2010. Namun menurut para pengamat salmon, angka tersebut merupakan anomali.

Bruce Cohoen, hakim dari pengadilan tinggi setempat, telah menjadwalkan pemeriksaan terkait bukti-bukti dan bagaimana virus Infectious Salmon Anemia bisa menyebar ke daerah tersebut.



Sumber: nationalgeographic.co.id

Reflected Light Due to Collisions Of Dust Clouds

Friday, November 4, 2011 | 0 comments


A planetary derby may be playing out around the supermassive black hole at the heart of the Milky Way, according to a new theory that could help solve a dusty mystery.

Almost all of the large galaxies observed so far have central black holes, each billions of times the mass of our sun.

But about half of these cosmic monsters are obscured by dense rings of dust, and astronomers have been uncertain where all this dust comes from and how it's remained intact over time.

According to the new theory, it's possible that newly formed planets and asteroids whirling close to these giant black holes are continually being smashed to smithereens, creating the thick, donut-shaped clouds of debris.

"Near a supermassive black hole, velocities are hundreds to a few thousand kilometers per second," said study leader Sergei Nayakshin of the University of Leicester in the U.K.

At such speeds, "hitting an Earth-size planet with a solid object a few kilometers across could fragment [the planet] into lots of smaller fragments that, over time, become nothing more than dust."

When Worlds Collide

In 2006 astronomers discovered a population of stars in two rotating disks around the Milky Way's central black hole.

Nayakshin's team believes these stars may have also formed their own planets and asteroids, similar to the objects in our solar system.

Such planets would have to be orbiting their host stars extremely closely to be able to form under the intense gravitational forces that exist near a black hole.

At the same time, stellar densities are very high near the giant black hole, so it's possible that the gravitational pull of closely passing stars frequently causes planets to unbind from their host stars and smash into each other, according to the new theory.

The dust created by these pulverized worlds might be similar to the zodiacal dust in our solar system—the result of ancient collisions between newborn planets, asteroids, and comets.

A similar mechanism could be at work across the universe, filling other galaxies with dust near their central black holes.

For the study, Nayakshin and colleagues looked at existing observations of dust clouds around supermassive black holes and compared them with computer models of dust-cloud creation in planetary systems.

"If you know this process to actually work on a smaller scale in a somewhat similar setting, then chances are that it may work in the bigger system you're studying," Nayakshin said.

The team found that the type of microscopic dust generated as planets and asteroids collided would in fact block light even from actively feeding black holes, which spew intense radiation as matter falls toward the black hole, compresses, and heats up.

Dust Rings Offer Galactic Protection?

Of course, the future for any newly formed planet orbiting a galactic black hole may seem bleak. But the violent demise of star systems could have a protective effect for other parts of some galaxies.

If the resulting clouds of dust are massive enough, Nayakshin believes, they can obscure much of the lethal x-rays and gamma rays that are constantly bellowing out from the edges of an actively feeding supermassive black hole.

While much of the area surrounding such a black hole would be sterile, Nayakshin said, "parts of the galaxy that are shielded by the ring of dust—about 50 percent of it—will have a safer and quieter environment for star and planet formation."

Overall, he added, the theory raises some interesting new possibilities for the exotic environments close to supermassive black holes.

People used to think all that existed around such black holes was gas and dust, Nayakshin said.

"But if we are right, then there are also planets, asteroids, and comets that exist there too—so it is a much more diverse environment than people ever thought."



Source: news.nationalgeographic.com
Image: nationalgeographic.com

Lahirnya Planet Termuda

Monday, October 24, 2011 | 1 comments


Para astronom melaporkan, raksasa gas baru lahir dan dijuluki LkCa 15b yang mengorbit pada sebuah bintang sunlike 450 tahun cahaya jauhnya di konstelasi Taurus utara. Planet bayi besar ini bisa sampai enam kali massa Jupiter, menurut perhitungan berdasarkan teori, dan tampaknya mengorbit 11 kali lebih jauh dari bintang induknya.

"planet mungkin akan muncul merah mendalam untuk mata kita, karena itu masih menyala dari panas yang terbentuk," kata Adam Kraus, penulis utama studi dan astronom di Universitas Hawaii.

Kraus dan rekan memusatkan perhatian pada bintang muda yang didasarkan pada pengamatan sebelumnya yang menunjukkan kesenjangan mencolok dalam cangkang puing-puing di sekitar bintang. Kesenjangan tersebut dianggap tanda-tanda bahwa besar bahwa planet yang baru terbentuk mengelilingi dalam cangkakng gravitasi protoplanet itu akan membersihkan ruang yang ada disekitarnya dan menumpukkan gas dan debu materi.

"Ini adalah keuntungan besar bagi para astronom yang ingin menemukan planet-planet baru, dan kita tahu kira-kira di mana mencarinya," kata Kraus.

"Kami hanya perlu menemukan cara untuk membedakan planet yang sangat samar dari bintang induknya yang sangat terang." ungkap Krus.

Kraus dan timnya berencana untuk melanjutkan mengamati LkCa 15b sehingga mereka dapat menganalisan penurunkan suhu dan karakteristik orbital, seperti bentuk dan orientasi jalan di sekitar bintang tersebut. Tim juga berharap untuk memperluas pencarian pada bintang lain yang mungkin menjadi pertanyaan dasar tentang awal pembentukan planet.



Sumber: news.nationalgeographic.com
Photo:  news.nationalgeographic.com

Terbentuknya Danau Toba

Friday, October 21, 2011 | 3 comments

Hosted on Photoserver.ws

Di balik permai Danau Toba yang menghampar di wilayah Sumatra Utara, daya rusak yang mahadahsyat tersembunyi di dalamnya. Sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat dan nyaris menamatkan umat manusia.

Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatera, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya.

Kantong magma Toba yang meraksasa disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif. Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

Dapur magma ini diperkirakan memiliki volume sedikitnya 34.000 kilometer kubik yang mengonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan oleh gunung ini sebelumnya.

Vulkano-tektonik
Tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari dapur magma, Kaldera Toba ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan tektonik yang mengimpitnya sehingga kalangan geolog menyebutnya sebagai vulkano-tektonik.

Tumbukan lempeng bumi yang sangat kuat dari lempeng Indo-Australia telah memicu terbentuknya sesar geser besar yang disebut sebagai Zona Sesar Besar Sumatera (Sumatera Fault Zone/SFZ). Sesar ini memanjang hingga 1.700 kilometer dari Teluk Lampung hingga Aceh. Hampir semua gunung berapi di Sumatera berdiri di atas sesar raksasa ini.

Uniknya, Kaldera Toba tidak berada persis di atas sesar ini. Dia menyimpang beberapa kilometer ke sebelah timur laut sesar Sumatera. ”Di antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu, Pegunungan Barisan (yang berdiri di atas sesar) tiba-tiba melebar dan terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi; panjangnya 275 km dan lebar 150 km yang disebut Batak Tumor,” papar Van Bemmelen, geolog Belanda yang pada 1939 untuk pertama kali mengemukakan bahwa Toba adalah gunung api.

Pengangkatan Batak Tumor ini, disebut Bemmelen, menjadi fase awal pembentukan Gunung Toba. Saat pembubungan terjadi, sebagian magma keluar melalui retakan awal membentuk tubuh gunung. Jejak awal tubuh gunung ini masih terlihat di sekitar Haranggaol, Tongging, dan Silalahi. Sementara sebagian besar lainnya telah musnah saat terjadinya letusan Toba terbaru sekitar 74.000 tahun lalu (Youngest Toba Tuff/YTT).

Danau Toba jelas terpengaruh oleh gaya sesar ini. Bentuk Danau Toba yang memanjang, bukan bulat sebagaimana lazimnya kaldera, menunjukkan dia terpengaruh dengan gaya sesar geser yang berimpit di kawasan ini. Sisi terpanjang danau, yang mencapai 90 km, sejajar dengan Zona Sesar Sumatera, yang merupakan salah satu patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas di Amerika. Aktivitas gunung berapi di Sumatera, termasuk Toba, dikontrol oleh patahan ini. (Ahmad Arif/Amir Sodikin/Fikria Hidayat)




Sumber: nationalgeographic.co.id

Kenaikan Suhu Dalam 500 Tahun Akan Datangkan Bencana

| 1 comments

Hosted on Photoserver.ws

Kenaikan suhu di Bumi akan mendatangkan bencana karena kenaikan permukaan air laut, di abad-abad mendatang. Melonjaknya biaya, masalah sosial dan migrasi juga menjadi bencana atas kenaikan suhu tersebut. Peneliti dari Niels Bohr Institute, Copenhagen menyatakan bahwa hantaman bencana-bencana tersebut bisa terjadi dalam kurun waktu 500 tahun dari sekarang.

"Berdasarkan situasi saat ini, kami telah proyeksikan kenaikan permukaan laut 500 tahun mendatang," jelas Aslak Grinsted dari Niels Bohr Institute. Pengukuran ini telah dikembangkan bersama peneliti dari Inggris dan Cina yang berdasarkan keadaan emisi gas rumah kaca, aerosol, dan polusi atmosfer. Menurut mereka, model ini telah diukur secara aktual yang kemudian digunakan untuk prediksi kenaikan permukaan air laut.

Setelah melakukan perhitungan, para peneliti memperkirakan empat skenario tentang keadaan di masa depan. Skenario pertama, emisi akan terus meningkat dan permukaan air laut akan naik 1,1 m tahun 2100, lalu 5,5 m di tahun 2500.

Skenario kedua merupakan yang paling optimistis, kemajuan teknologi dan kerjasama internasional semakin kuat untuk mengurangi gas rumah kaca dan polusi, permukaan air laut tetap meningkat 60 cm pada tahun 2100 dan 1,8 m pada 2500. Dua skenario lainnya merupakan yang realistis dan diperkirakan akan terjadi, yaitu permukaan air laut naik sekitar 75 cm pada 2100 dan 2 m pada 2500.

Aslak mengatakan bahwa permukaan air laut telah meningkat 2 mm tiap tahunnya, sejak abad ke-20. Namun, seiring berjalannya waktu, permukaan air laut meningkat 70 persen lebih cepat.

"Walaupun kita berhasil mengontrol gas rumah kaca dan polusi, permukaan air laut akan terus meningkat karena reaksi dari pencairan es membutuhkan waktu yang lama. Diperkirakan reaksi yang diakibatkan pencairan es itu terjadi setelah 200-400 tahun mendatang," tambah Aslak.




Sumber: nationalgeographic.co.id

Wisata Indonesia dan Turis Mancanegara

Saturday, October 15, 2011 | 5 comments

wisata indonesia

Thailand dengan penduduk 60 juta jiwa mampu mendatangkan turis asing hingga 18 juta orang per tahun. Begitu pun dengan Singapura yang mempunyai penduduk 4,5 juta jiwa, negara ini mampu mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 10 juta orang per tahun. Kenapa indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 240 juta jiwa hanya bisa mendatangkan turis 6 juta orang pertahun ??

Memang sangat disayangkan untuk pariwisata indonesia dengan aneka cagar alam elok, indah dan berlimpah hanya bisa mendatangkan wisatawan asing yang sangat terbatas. Pemerintah Indonesia membutuhkan perbaikan industri pariwisata agar jumlah angka kunjungan wisatawan dari mancanegara terus meningkat setiap tahunnya.

Pemerintah kota-kota wisata harus banyak belajar dari negara tetangga yang sukses dalam mendatangkan wisatawan mancanegara. Agar bisa berhasil seperti Singapura dan Thailand, Indonesia membutuhkan perbaikan sumber daya manusia, infrastruktur, perhotelan, industri kecil, souvenir, dan hiburan.

Dengan adanya wisatawan mancanegara, tentunya akan menjadi sumber ekonomi baru untuk masyarakat kecil dan juga pemerintah kota. Dengan adanya sumber ekonomi baru bagi rakyat kecil, pastinya menjadi hal positif untuk kota itu sendiri. Angka pengangguran mengecil dan tingkat kejahatan pasti akan berkurang.


Gempa 6,8 Skala Richter Menggoyang Bali

Thursday, October 13, 2011 | 4 comments

Gempa 6,8 Skala Richter menggoyang Bali

Gempa bumi kembali mengusik kepuluan indonesia. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kamis (13/10/11) Kali ini gempa mengguncang kawasan Nusa Dua, Bali dengan kekuatan 6,8 Skala Richter.

Gempa yang terjadi pada pukul 10.16 Wib, berada pada koordinat 9.89 LS, 114.53 BT atau sekitar 143 kilometer barat daya Nusa Dua, Bali, dengan kedalaman 10 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa juga dirasakan keras di Mataram dan Pulau Sumbawa. Guncangan gempa membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Seorang warga Desa Labuan Lalar, Bambang Mardiansyah, mengaku, gempa yang dirasakan cukup dirasakan kuat.

Hingga kini belum ada laporan mengenai bangunan yang rusak di Kota Mataram ataupun Pulau Sumbawa. Namun beda halnya dengan kawasan Nusa Dua, Bali berapa bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.

Selain itu, berdasarkan informasi yang dihimpun hingga siang ini, guncangan gempa terasa hingga Madura, Jember, Blitar, Surabaya dan Malang.


Sumber: http://regional.kompas.com

Dua Sumber Daya Alam Masa Depan

Wednesday, October 12, 2011 | 2 comments

solarhydro-vs-solarpanel

Pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga surya merupakan sumber energi yang tidak memiliki sumber daya terbatas. Oleh karena itu, penggunaan kedua sumber energi alam ini sangat perlu dijaga dan tidak menghilangkannya dari penggunaan lain. Penggunaan tenaga air dan surya menciptakan pulosi terhadap lingkungan lebih kecil jika dibandingkan dengan media lain. Di Amerika Serikat sendiri terhitung sekitar 6 persen dari pasokan energi menggunakan PLTA.

PLTA lebih dapat diandalkan dari pada energi tenaga surya karena memiliki pasokan energi yang tidak terputus. Lain halnya dengan tenaga surya yang sumber energinya intermiten dengan terbatasnya periode waktu pemasokan energi. Seperti pada malam hari dan hari mendung, mungkin untuk pemakaian pada rumah serta alat rumah tangga tidak akan terlalu berpengaruh. Sangat berbeda halnya jika dipergunakan pada industri yang membutuhkan tenaga besar sangat membutuhkan sumber cadangan lain untuk membantu disaat permintaan tenaga tinggi dan pasokan yang dimiliki rendah.

Hydropower (PLTA) menciptakan dampak kerugian lingkungan lebih besar dari pada tenaga surya. Secara objektif, pembangkit tenaga air sangat membutuhkan bendungan sungai yang berfungsi sebagai sumber. Hal ini sangat berpengaruh pada habitat hewan, ikan dan juga tanaman.

Sumber tenaga air tidak bisa digunakan untuk keperluan kecil, seperti untuk menjalankan perangkat portable, senter, kalkulator atau menonton. Dalam penggunaan hal kecil ini, tenaga surya bisa digunakan karena sumber bisa diakses dari energi matahari.

Jika dua sumber tenaga alam ini bisa dimanfaat secara sejalan, maka akan banyak dampak yang sangat menguntungkan bagi manusia. Seperti pembangunan waduk untuk PLTA, bisa menciptakan sumber daya pusat rekreasi untuk masyarakat. Waduk juga dapat meningkatkankan pasokan air setempat memberikan pengairan pada lahan-lahan pertanian (irigasi) dan juga sangat membantu dalam penanggulangan banjir. Sedangkan untuk hal-hal kecil yang dilakukan diluar yang tidak mungkin terjangkau apabila manggunakan sumber tenaga air, bisa menggunakan sumber tenaga surya.

Setiap penggunaan sumber daya alam, pasti akan menimbulkan efek buruknya. Namun dengan penaggulangan dan pengelolaan yang terarah serta terjaga, stabilitas habitat lingkungan akan tetap terjaga. Untuk menggunakan kedua sumber daya energi ini masih jauh dari jangkauan karena menelan biaya yang sangat besar yang mungkin untuk masyarakat tidak dapat terjangkaunya.

Namun secara pasti dan mungkin segera terjadi, kita tidak bisa terus tergantung pada bahan bakar fosil yang mempunyai sumber daya terbatas serta pencemaran yang terus-menerus disebabkan pada penggunaannya.



Periodic Table of Chemical Elements

Monday, October 10, 2011 | 3 comments

tabel kimia

View Full Image


The periodic table of chemical elements is a display of chemical elements in table form. The elements are arranged by electron structure so that the chemical properties of these elements vary regularly throughout the table. Each element is listed by its atomic number and chemical symbol.

Standard periodic table provides basic information about an element. There are also other ways of displaying the chemical elements with more or load from a different perspective.



"Cyclus" Portable Power Generator

Saturday, October 8, 2011 | 0 comments

Cyclus portable energy generator

Generator listrik portable (Portable Power Generator) yang diberi nama Cyclus dengan menggunakan teknologi sederhana dan sangat praktis digunakan, memperoleh kemenangan pada ajang kompetisi E-idea. Alat generator sederhana ini di ciptakan oleh Satoshi Yanagisawa salah satu desainer Jepang yang telah banyak meraih sejumlah perhargaan di bidang desain lestari.

Generator portable ini berupa motor pembangkit listrik dan sistem pegas, dengan desain peranti sangat ramah lingkungan. Selain mudah digenggam serta dibawa, Cyclus juga dapat diandalkan dalam kesehari-harian. Cara kerjanya pun sangat sederhana, cukup memutar bagian bawah dari alat ini untuk membuat Cyclus menghasilkan energi listrik konstan. Energi konstan akan dihasilkan selama 20 menit. Energi itu cukup untuk mengisi ulang baterai berbagai perangkat digital dalam keadaan darurat.

Satoshi mengatakan, "Kita tidak mungkin berhenti mengkonsumsi tenaga listrik, karena kita memang harus melakukan itu. Namun kita bisa merancang sesuatu yang berkelanjutan demi kelangsungan kehidupan di dunia".



Lubang Ozon "Dua juta km persegi" di Kutup Utara

Friday, October 7, 2011 | 3 comments

lubang ozon

Lubang ozon yang terletak 20 km di atas Kutub Utara telah membesar sebesar lima kali luas wilayah Jerman. Diperkirakan, pemanasan global menjadi penyebab utama terbukanya lubang di lapisan ozon tersebut. Perangkap gas rumah kaca pada ketinggian yang rendah mendinginkan stratosfer dan memecahkan molekul oksigen pada lapisan ozon.

Lapisan ozon berfungsi menyerap 97-99% sinar ultraviolet yang masuk ke bumi, hal ini sangat bermanfaat guna melindungi manusia dari efek yang mengerikan yang diakibatkan oleh sinar ultraviolet.

Peneliti dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Michelle Santee mengatakan bahwa penyebab utama dari kemunculan lubang ini diperlukan penelitian selama bertahun-tahun apakah ada penyebab lain yang menjadikan lubang ozon sebesar itu, jangan hanya melihat dari segi pandangan pemanasan global.

Menurut peneliti, lubang ini lebih bebas bergerak hingga mungkin dapat mencapai pemukiman manusia. Dengan fakta itu, lubang di atas Kutub Utara ini lebih berbahaya dibandingkan lubang di atas Kutub Selatan yang mempunyai ukuran lubang sama, yaitu sebesar dua juta km persegi.


Sumber: nationalgeographic.co.id
 
© Design modified 2010-2011 putroe intan | Powered by Blogger.com.